Pemenuhan gizi yang tepat pada anak merupakan salah satu fondasi terpenting dalam membangun generasi sehat, aktif, dan cerdas. Keluarga dan lingkungan menjadi faktor utama yang memengaruhi pemenuhan nutrisi anak, baik pada usia balita, pra-sekolah, hingga usia sekolah.
Dalam setiap tahap perkembangan, kebutuhan gizi anak berubah, namun kunci keberhasilannya tetap sama: keterlibatan orang tua, dukungan sekolah, dan kebiasaan makan yang dibentuk sejak dini. Di sinilah peran keluarga dan lingkungan menjadi sangat penting.
Peran Keluarga dalam Pembentukan Kebiasaan Makan Anak
Keluarga, khususnya orang tua, adalah pihak pertama yang mengenalkan anak pada makanan. Mulai dari jenis bahan makanan, cara memilih, hingga bagaimana sebuah makanan disajikan.
Orang tua berperan sebagai edukator, organisator, dan fasilitator. Ketiganya berkontribusi besar terhadap pemenuhan nutrisi harian anak. Mereka mengajarkan anak mengenali makanan sehat, menyusun menu harian yang seimbang, hingga menyiapkan makanan dalam bentuk menarik agar anak lebih bersemangat makan.
Selain itu, kebiasaan makan yang diterapkan orang tua di rumah akan berdampak jangka panjang. Anak cenderung meniru pola makan yang ia lihat setiap hari.
Apabila keluarga memiliki kebiasaan makan bersama, menyajikan sayur dan buah secara rutin, serta memilih makanan bergizi, maka anak lebih mudah menyukai makanan sehat. Sebaliknya, pola makan yang tidak teratur dan minim variasi dapat membuat anak rentan mengalami masalah makan.
Lingkungan rumah yang menyediakan makanan sehat dan membatasi makanan kurang bergizi sangat membantu anak dalam belajar memilih makanan.
Orang tua dapat menempatkan makanan sehat di lokasi yang mudah dijangkau, sementara makanan tidak sehat disimpan lebih sulit. Langkah sederhana ini dapat membantu anak lebih sering memilih makanan yang baik bagi tubuhnya.
Pentingnya Lingkungan Emosional dan Sensoris
Lingkungan emosional dalam keluarga sangat berpengaruh pada cara anak memandang makanan. Suasana yang nyaman dan menyenangkan membuat anak lebih terbuka terhadap variasi makanan. Sebaliknya, ketegangan saat makan, tekanan untuk menghabiskan makanan, serta pemaksaan terhadap jenis makanan tertentu dapat menimbulkan kecemasan makan dan menurunkan minat anak mencoba makanan baru.
Faktor sensoris juga memiliki peran besar dalam keberhasilan proses belajar makan anak. Sejumlah anak mengalami sensitivitas berlebih terhadap aroma, tekstur, atau warna makanan tertentu.
Pendekatan sensoris seperti bermain dengan bahan makanan, mengenal makanan lewat cerita, atau memasak bersama terbukti membantu anak merasa lebih nyaman dan siap mencoba jenis makanan baru. Lingkungan yang mendukung ini penting untuk keberhasilan pemenuhan nutrisi anak dalam jangka panjang.
Peran Sekolah sebagai Mitra Keluarga
Pada usia prasekolah hingga sekolah dasar, sekolah menjadi lingkungan kedua yang paling banyak memengaruhi kebiasaan makan anak. Dalam penelitian pada anak usia 4-5 tahun, kepala sekolah berperan sebagai motivator, edukator, fasilitator, sekaligus evaluator. Sekolah menyediakan edukasi gizi, video pembelajaran, lagu edukatif, hingga program pemberian makanan tambahan.
Di sekolah dasar, kebiasaan membawa bekal dan sarapan menjadi indikator penting pemenuhan nutrisi harian. Anak yang sarapan teratur memiliki energi belajar yang lebih baik dan lebih jarang jajan sembarangan. Dengan demikian, kerja sama antara sekolah dan keluarga menjadi kunci penting.
Pendidikan Orang Tua sebagai Faktor Pendukung
Tingkat pendidikan ibu menjadi salah satu faktor paling berpengaruh terhadap pola makan anak. Pendidikan yang lebih baik membuat orang tua lebih memahami gizi seimbang dan cara memilih makanan bergizi.
Penelitian menunjukkan adanya hubungan signifikan antara pendidikan ibu dengan kebiasaan sarapan serta membawa bekal anak. Dengan kata lain, pemahaman orang tua terhadap gizi sangat penting dalam keberhasilan pemenuhan nutrisi anak.
Mendorong Kemandirian Anak dalam Makan
Salah satu strategi yang ditemukan dalam literatur adalah memberi kesempatan kepada anak untuk terlibat dalam proses makan. Mulai dari memilih bahan makanan, membantu memasak, hingga makan sendiri.
Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kemandirian, tetapi juga membantu membentuk hubungan positif dengan makanan. Keterlibatan aktif ini menjadi bagian penting dalam mendukung pemenuhan nutrisi yang lebih optimal.
Kesimpulan
Dari tiga rangkuman penelitian, dapat disimpulkan bahwa keluarga dan lingkungan memiliki peran yang saling melengkapi dalam mendukung pemenuhan nutrisi anak.
Orang tua perlu menjadi contoh dan pendamping utama dalam pembiasaan makan sehat. Sekolah harus menjadi mitra yang aktif dalam edukasi gizi. Sementara lingkungan emosional, sensoris, dan sosial harus dibangun sedemikian rupa agar anak merasa aman, nyaman, dan mampu mengenali kebutuhan tubuhnya.
Dengan demikian, pemenuhan nutrisi bukan hanya soal jenis makanan, tetapi juga tentang pola asuh, edukasi, dan dukungan berkelanjutan dari keluarga dan lingkungan.
Artikel ini ditinjau secara medis oleh: dr. Meida Tanukusumah, Sp.A
Butuh Bantuan atau Informasi Lebih Lanjut?
Rumah Sakit Medistra siap untuk melayani Anda. Untuk pertanyaan, informasi, dan bantuan darurat, Anda bisa menghubungi kami melalui:
Telepon: (021) 5210-200
Whatsapp: 0817-5210-200
Ambulans: (021) 521-02-01
Dokter Rekomendasi

Pediatrics
Referensi
- Munawaroh, H., Nada, N. K., Hasjiandito, A., Faisal, V. I., Heldanita, H., Anjarsari, I., & Fauziddin, M. (2022). Peranan Orang Tua Dalam Pemenuhan gizi Seimbang Sebagai upaya pencegahan stunting pada anak usia 4-5 tahun. Sentra Cendekia, 3(2), 47. https://doi.org/10.31331/sencenivet.v3i2.2149
- Munifa, M., Ramadhani, J., & Yusup, A. (2022). Peran Keluarga Terhadap Pemenuhan Gizi Anak Usia Sekolah. Jurnal Forum Kesehatan : Media Publikasi Kesehatan Ilmiah, 12(1), 26-32. https://doi.org/10.52263/jfk.v12i1.242
- Kawecka, P., & Kostecka, M. (2024). The role of the family environment and parental nutritional knowledge in the prevention of behavioral feeding disorders in toddlers and preschool children – a narrative review. Journal of Health Inequalities, 10(1), 56–63. https://doi.org/10.5114/jhi.2024.140767

